Thursday, March 29

Catatan Kulinerku




Mari bercerita tentang makanan. Dulu me adalah manusia yang paling pilih-pilih dalam hal makanan. Me tidak makan apapun yang berwarna hijau, tidak makan daging sapi dan kambing, juga berkata tidak pada seafood dan semua yang berbau laut. Sayapun menolak makan sesuatu yang masih menempel pada kulitnya, misalnya kulit ayam, kulit ikan, kulit tahu, kulit wortel apalagi kulit timun. Juga tidak pada sesuatu yang tadinya adalah tempat dimana mahkluk hidup menyimpan otaknya.

Ketika orang lain sibuk makan, saya sibuk memilah milah makanan diatas piringku, karena saya tidak akan makan sesuatu yang tak kuketahui itu apa, sebutirpun tidak. Ketika masih tinggal dirumah, kebiasaan ini tidak menjadi masalah. Mamaku sudah menyerah sejak dulu, jadi nyam.. nyam.. kumakan apa yang kusuka saja.

Masalah timbul ketika me tidak lagi tinggal dirumah. Kita tidak bisa terlalu memilih-milih makanan saat tinggal di kos-kosan. Terpaksa, pelan-pelan me mulai mencicipi berbagai hal. Ternyata tak terlalu buruk. Me mulai suka makan kulit ayam, mulai makan bayam dan tauge dan meningkatkan level kepedasan pada makananku.

Perjalanan juga sangat mengubah pola kulinerku. Pertama kali me makan kepiting hasil pancinganku sendiri di pesisir Pemangkat. Waktu itu papa mengajariku mancing dengan umpan udang di dermaga belakang rumah nenek. Kami mendapat banyak sekali kepiting besar-besar yang membuatku tergiur, kapan lagi makan kepiting hasil tangkapan sendiri? Lalu udang besar dan kerang. Pamanku di Mempawah menjamu kami dengan banyak sekali udang raksasa (lobster mungkin ya?) dan kerang-kerang yang walaupun agak amis menurutku tapi enak sekali. Agak ke hulu, ikan-ikan hulu Kapuas benar-benar membuatku ketagihan. Tiba di Jawa lagi, me sudah tergila-gila seafood, tapi, sulit menjumpai yang selezat itu disini.

Setiap perjalanan berarti makanan baru. Me berterimakasih pada Medan yang mengenalkanku pada Durian. Jangankan makan, mencium baunyapun me males. Tadinya. Medan saat musim durian, teman-temanku makan durian dengan rakusnya, mengatakan padaku bahwa me akan sangat menyesal melewatkan kesempatan makan durian Medan yang sangat enak di seluruh Nusantara itu. Baiklah, kapan lagi me ke Medan. Icip-icip. Icip lagi. Dan lagi. Apakah lebih enak? Entah.. ini kan durian pertama seumur hidupku.

Lalu Aceh yang membuatku tergila-gila kopi. Tadinya me bukan tak suka kopi. Tapi sehari empat kali ngopi senang sekali haha..

Tapi dimana-mana tentu me tetap cinta masakan padang. Dengan berbagai citarasa yang berbeda sampai redang manis rasa nanas di Sanggau. Dan kini saya sudah tak terlalu memilih makanan. Makan apa ayo mari. Pantes saja kalau mereka yang sudah lama tak jumpa pasti akan bilang.
"Fame? Kok gemukan ya.."

-selesai-ngetik-jadi-laper-banget-

3 komentar:

Andika Prasetyo said...

Kalo makan2 lagi ikut donk he he ... thanks for coming :)

Andika Prasetyo said...

aku juga laper baca tulisan kamu, btw ajak2 donk kalo mo makan2 lagi. Anyway thanks yah atas komentarnya :)
Salam kenal

Andika Prasetyo said...

Thanks for comment, eh ajak2 donk kalo mmo makan2 :)