Tiga hari kemarin me sakit, Demam dan pusing mendera jiwa, jadi selama tiga hari itu me cuma bisa meringkuk di atas kasur memandang ke arah layar kaca yang memabukkan itu. Lalu saya tahu perasaan orang yang bilang, “Matikan tivimu” ataupun peribahasa terkenal “too much tv will kill you”.
Dari 12 channel yang tertangkap oleh antena tivi pinjaman itu (tivi lokal mudah terpedaya, metro berhasil meloloskan diri), semuanya kuamati sambil menikmati sensasi denyut di kepala. Pagi, terhibur dengan Sponsbob lalu Chalk Zone lalu Dora (pernah tayang tapi tak apalah). Tapi apa setelah itu? Ternyata jam tayang stasiun tivi kita sudah terkotak-kotakkan. Seperti ada yang mengatur bahwa garis besarnya adalah seperi ini:
jam 8-9 pagi
adalah jamnya gosip Dhani dewa (Mr Malechauvinis) yg mengancam menceraikan istrinya lalu sinetron pagi lalu gosip Maia Ahmad yang diancam oleh suaminya, berita kriminal lalu sinetron siang. Agak sore sedikit kita bisa ikuti gosip grup band Ratu yang akan bubar karena masalah rumah tangga personilnya (oh..ya.. tentu kita belum tahu gosip ini) beserta tentu saja sinetron sore. Berita, lalu muncul lagi sinetron prime time.
Jam 8-9 malam
sebagian besar masih sinetron tapi mulai ada film barat. Tiga hari itu kebetulan yang diputar adalah jenis rambo-ramboan dimana jagoan-diberondong-peluru-dari-atas-heli-baik-baik-saja-lalu-dia-menembak-heli-satu-kali-duer-heli -meledak-mati. Tetep sinetron lagi. Lalu ketika me terbangun jam 12 malam tebak apa yang ada di tipi? Sinetron laga yang jagoannya bisa terbang dan melawan siluman. Gila. Siapa sih yg ngikutin? (hayo tunjuk jari!)
Gambaran umumnya sih seperti itu, tapi dari 12 chanel, tentu ada 2-3 yang kebetulan pas tidak mengikuti tren yg berlaku pada jam itu, tapi sebagian besar tak ingin keluar dari jalur mainstream.
Tiga hari kemudian, demamku sudah sembuh tapi kepalaku masih berat. Siaran orang marah yang terus berulang di sinetron, gosip yang sama terus diulang (dengan narasi yg makin berbunga-bunga) dan film pukul-pukulan yg sama. Kenapa harus ada 12 channel kalau yang ditayangkan sama? Itu itu dan itu. Sedikit sekali acara bermutu yang memperlihatkan kekayaan budaya bangsa, luasnya alam dan dunia ini, sejarah kebudayaan bangsa atau apalah. Justru yang ada tayangan hedonis dan kekerasan. Padahal jelas-jelas kekerasan itu berdampak buruk pada tumbuh kembang anak. Lihat kasus yang terjadi sekarang, smackdown dituding sebagai penjahat utama penyebab agresifitas anak. Padahal bibit kekerasan itu sudah ditanamkan dari tayangan televisi jauh-jauh hari. Walah... lagi-lagi saya ngomongin anak-anak lagi. Pantesnya buka teka aja kali ya :) Ide bagus tuh..
Satu lagi.. rating acara yang tampil di sudut kiri atas, apa indikatornya? Masa tayangan kuliner pak Bondan Winarno yang damai aman nyaman makan-makan disamakan dengan film dimana jagoannya-menekuk-mencekik-lalu memukuli-si-penjahat-sampai-mati-dengan-kepala-pecah-darah-memburai-kemana-mana. Tanyakenapa!*
(Sudahlah, mending saya paksakan pergi ke kantor saja. Lama-lama begini bisa gila.)
^^cya’s
*tag sebuah iklan, sokoguru kehidupan pertelevisian kita
Thursday, November 30
Monday, November 13
Zodiak Kamu Hari Ini
cya lahir 11 Juli,
Menurut Zodiak Masehi dan Horoskop Jawa dari sebuah portal berita,
nasib cya tanggal 14 November 2006 adalah:
Cancer
22 Juni - 22 Juli
Peruntungan: Hindari segala macam konflik. Hari ini sebaiknya Anda mencari jalan yang aman. Peluang terbuka lebar, sayang jika konsentrasi Anda terpecah.
Karir: Carilah celah untuk bisa mendekati atasan. Pastikan Anda tetap bisa menjaga sikap dan tak sampai mengundang kecemburuan rekan-rekan Anda.
Kesehatan: Kondisi badan terus menurun. Karena itu rajin-rajinlah berolahraga dan istirahat teratur. Kurangi aktivitas berbahaya yang menantang maut.
Keuangan: Jangan main spekulasi pada hal yang tidak pasti. Bukannya untung seperti yang Anda harapkan, tetapi bisa saja justru buntung yang Anda terima.
Cinta: Hubungan kisah kasih Anda sedang disorot banyak orang. Pandai-pandailah menjaga sikap dan kelakuan agar mereka tidak menemukan bahan gosip.
Karo
Lahir: 3 Agustus-25 Agustus
Maprabasapta: 2 (Satriya Wibawa)
Umum: Boleh saja bereksperimen dengan hal-hal baru yang bisa membuat pengetahuan Anda bertambah. Namun, sebaiknya jangan sampai melampau batas.
Keuangan: Kondisi keuangan masih sedikit kacau. Namun, jangan khawatir masih ada banyak pintu yang akan berikan kontribusi bagi kemajuan keuangan.
Kesehatan: Kurangi konsumsi minuman bersoda yang berdampak kurang baik bagi pencernaan. Selain itu, minuman ini justru membuat Anda semakin gemuk.
Asmara: Beberapa masalah yang sempat mencuat nampaknya mulai bisa diredam. Jangan kacaukan masalah dengan pembicaraan yang memancing emosi.
Damn! Its a different way. Baru satu portal. Belum dibandingin sama sumber-sumber lain.
So do you still believe in astrology?
Menurut Zodiak Masehi dan Horoskop Jawa dari sebuah portal berita,
nasib cya tanggal 14 November 2006 adalah:
Cancer
22 Juni - 22 Juli
Peruntungan: Hindari segala macam konflik. Hari ini sebaiknya Anda mencari jalan yang aman. Peluang terbuka lebar, sayang jika konsentrasi Anda terpecah.
Karir: Carilah celah untuk bisa mendekati atasan. Pastikan Anda tetap bisa menjaga sikap dan tak sampai mengundang kecemburuan rekan-rekan Anda.
Kesehatan: Kondisi badan terus menurun. Karena itu rajin-rajinlah berolahraga dan istirahat teratur. Kurangi aktivitas berbahaya yang menantang maut.
Keuangan: Jangan main spekulasi pada hal yang tidak pasti. Bukannya untung seperti yang Anda harapkan, tetapi bisa saja justru buntung yang Anda terima.
Cinta: Hubungan kisah kasih Anda sedang disorot banyak orang. Pandai-pandailah menjaga sikap dan kelakuan agar mereka tidak menemukan bahan gosip.
Karo
Lahir: 3 Agustus-25 Agustus
Maprabasapta: 2 (Satriya Wibawa)
Umum: Boleh saja bereksperimen dengan hal-hal baru yang bisa membuat pengetahuan Anda bertambah. Namun, sebaiknya jangan sampai melampau batas.
Keuangan: Kondisi keuangan masih sedikit kacau. Namun, jangan khawatir masih ada banyak pintu yang akan berikan kontribusi bagi kemajuan keuangan.
Kesehatan: Kurangi konsumsi minuman bersoda yang berdampak kurang baik bagi pencernaan. Selain itu, minuman ini justru membuat Anda semakin gemuk.
Asmara: Beberapa masalah yang sempat mencuat nampaknya mulai bisa diredam. Jangan kacaukan masalah dengan pembicaraan yang memancing emosi.
Damn! Its a different way. Baru satu portal. Belum dibandingin sama sumber-sumber lain.
So do you still believe in astrology?
Friday, November 10
Selamat Hari Pahlawan
Hari ini 10 November, hari pahlawan. Aku hampir lupa seandainya tidak ada email dari milis Membaca Pramoedya ditengah kesibukan menyelesaikan pekerjaan akhir pekan ini. Berita dari Antara tentang penganugerahan gelar pahlawan kepada RM Tirto Adisuryo, sang pemula yang mengilhami Kuartet Buru, karangan masterpiece Pramoedya Ananta Toer. Jarang ada yang mengenalnya, padahal beliau ini adalah perintis pers Indonesia, sekaligus pejuang kemerdekaan lewat terbitannya itu. Pemberian gelar ini adalah sebuah langkah baru yang memberi harapan untuk sedikit pencerahan kegelapan sejarah Indonesia.
Hal yang perlu dipertanyakan adalah, setelah acara seremoni ini, lalu apa? Setidaknya ada pengakuan. Bukankan percuma jika yang ada hanya seremoni. Sedangkan Tan Malaka yang sudah diangkat menjadi pahlawan nasional sejak tahun 1963 saja tetap ada dalam kegelapan sampai sekarang. Seingatku pada waktu SD dulu, sekita tahun 90-an, pahlawan nasional hanyalah Ayam Jantan dari Timur, Kartini dan Sultan Agung. Mari sekarang kita tanya pada anak muda jaman sekarang. Berapa orang yang mengenal Tan Malaka ataupun RM Tirto Adisuryo? Pasti mereka lebih kenal Baim Wong dan Jamie Aditya.
Dan masih banyak lagi bagian dari sejarah yang perlu ditarik ke tempat terang agar kita bisa belajar dari masa lalu. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa belajar dari sejarah? Selamat Hari Pahlawan.(cya)
Hal yang perlu dipertanyakan adalah, setelah acara seremoni ini, lalu apa? Setidaknya ada pengakuan. Bukankan percuma jika yang ada hanya seremoni. Sedangkan Tan Malaka yang sudah diangkat menjadi pahlawan nasional sejak tahun 1963 saja tetap ada dalam kegelapan sampai sekarang. Seingatku pada waktu SD dulu, sekita tahun 90-an, pahlawan nasional hanyalah Ayam Jantan dari Timur, Kartini dan Sultan Agung. Mari sekarang kita tanya pada anak muda jaman sekarang. Berapa orang yang mengenal Tan Malaka ataupun RM Tirto Adisuryo? Pasti mereka lebih kenal Baim Wong dan Jamie Aditya.
Dan masih banyak lagi bagian dari sejarah yang perlu ditarik ke tempat terang agar kita bisa belajar dari masa lalu. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa belajar dari sejarah? Selamat Hari Pahlawan.(cya)
Thursday, November 9
Denias, Negeri di Atas Awan
Semalam, thx to Nua, akhirnya nonton Denias juga, studio 2 yang sepi penonton. Apalagi kalau dibandingkan penonton studio sebelah yang menayangkan film buatan Multivision, Kuntilanak. Melihat rumah produksinya saja sudah membuatku pesimis, terlalu malas untuk menonton film rasa sinetron. Jadilah Denias sebagai pengobat kekecewaan karena batal berangkat ke Papua.
Ceritanya sederhana, tentang seorang anak Papua yang bertekad untuk terus bersekolah. Padahal guru satu-satunya sudah pulang ke Jawa. Maleo, seorang TNI yang peduli dengan pendidikan anak-anakpun harus pergi menjalankan tugas. Teringat kata-kata ibunya sebelum mati, diam-diam Denias nekat pergi mencari sekolah ke balik gunung. Karena menurut ibunya, gunung takut dengan anak sekolah.
Film ini indah sekali. Jarang ada film Indonesia yang menawarkan isi yang berbeda. Pemandangan Papua yang benar-benar mempesona. Alam liar yang belum tersentuh. Kehidupan orang Papua juga digambarkan dengan apik. Upacara pemasangan koteka, berburu kuskus, tampat tidur di honai yang hanya beralaskan jerami, upacara dukacita dengan memotong jari. Serasa bukan ada di Indonesia.
Selain itu film ini penuh dengan ironi. Anak-anak yang bertanya "Katanya di Jawa anak sekolah pakai seragam ya?" Peta Indonesia dari karton dan karung goni yang dibuat dengan penuh kebanggaan. (jadi inget casas de carton) Kesenjangan sosial yang nampak di kota di balik gunung dengan desa tempat Denias tinggal. Entah kenapa aku tergila-gila dengan film dengan teks keterangan tambahan pada endingnya. "Berdasarkan kisah nyata".
Lagi-lagi karena dilihat dari sudut mata anak-anak, film ini bercerita dengan sederhana, tanpa latar belakang politik dan embel-embel lain. Seperti juga Innocent Voices (lihat post sebelum ini) film ini bercerita tentang anak-anak dalam dunianya. Kebetulan saja anak-anak ini tak dapat menikmati kemudahan dunia modern seperti anak-anak yang lain.
Tentu film ini juga punya banyak kelemahan. Alurnya lambat. Terlalu banyak sisipan iklan produk didalamnya. Adegan Ibu Gembala (Marcella Zalianty) memperjuangkan Denias agar bisa bersekolah juga terasa janggal. Mungkin karena pemilihan kata-kata dan cara pembelaannya yang terlampau bertele-tele dan menanggung beban untuk menyampaikan sesuatu pada penonton. Jadi terkesan menggurui, ditambah dengan pengambilan gambar close-up yang kelamaan.
Disamping kekurangannya, film ini memberikan harapan bagi kemajuan film Indonesia. Semoga pesan yang disampaikan film ini tentang pendidikan bisa sampai. Seperti cerita Pak Guru Denias, agar Denias (dan anak-anak Indonesia) bisa melihat dunia, dari atas awan.(cya)
Ceritanya sederhana, tentang seorang anak Papua yang bertekad untuk terus bersekolah. Padahal guru satu-satunya sudah pulang ke Jawa. Maleo, seorang TNI yang peduli dengan pendidikan anak-anakpun harus pergi menjalankan tugas. Teringat kata-kata ibunya sebelum mati, diam-diam Denias nekat pergi mencari sekolah ke balik gunung. Karena menurut ibunya, gunung takut dengan anak sekolah.
Film ini indah sekali. Jarang ada film Indonesia yang menawarkan isi yang berbeda. Pemandangan Papua yang benar-benar mempesona. Alam liar yang belum tersentuh. Kehidupan orang Papua juga digambarkan dengan apik. Upacara pemasangan koteka, berburu kuskus, tampat tidur di honai yang hanya beralaskan jerami, upacara dukacita dengan memotong jari. Serasa bukan ada di Indonesia.
Selain itu film ini penuh dengan ironi. Anak-anak yang bertanya "Katanya di Jawa anak sekolah pakai seragam ya?" Peta Indonesia dari karton dan karung goni yang dibuat dengan penuh kebanggaan. (jadi inget casas de carton) Kesenjangan sosial yang nampak di kota di balik gunung dengan desa tempat Denias tinggal. Entah kenapa aku tergila-gila dengan film dengan teks keterangan tambahan pada endingnya. "Berdasarkan kisah nyata".
Lagi-lagi karena dilihat dari sudut mata anak-anak, film ini bercerita dengan sederhana, tanpa latar belakang politik dan embel-embel lain. Seperti juga Innocent Voices (lihat post sebelum ini) film ini bercerita tentang anak-anak dalam dunianya. Kebetulan saja anak-anak ini tak dapat menikmati kemudahan dunia modern seperti anak-anak yang lain.
Tentu film ini juga punya banyak kelemahan. Alurnya lambat. Terlalu banyak sisipan iklan produk didalamnya. Adegan Ibu Gembala (Marcella Zalianty) memperjuangkan Denias agar bisa bersekolah juga terasa janggal. Mungkin karena pemilihan kata-kata dan cara pembelaannya yang terlampau bertele-tele dan menanggung beban untuk menyampaikan sesuatu pada penonton. Jadi terkesan menggurui, ditambah dengan pengambilan gambar close-up yang kelamaan.
Disamping kekurangannya, film ini memberikan harapan bagi kemajuan film Indonesia. Semoga pesan yang disampaikan film ini tentang pendidikan bisa sampai. Seperti cerita Pak Guru Denias, agar Denias (dan anak-anak Indonesia) bisa melihat dunia, dari atas awan.(cya)
Wednesday, November 8
Suara Si Tak Berdosa
Fame kamu milihin film yang bikin orang paling tegar pun menangis. Apalagi lagu2nya menyayat..
From: Arya
(+6281xxxxxx)
Time:
WED 10.00
01-NOV-2006
Lg bingung mo nulis apa tiba-tiba datang sms itu lalu teringatlahku pada sebuah film yang sangat membekas di hati. Judulnya Innocent Voices.
Film yang menyentuh perasaan banget. Ceritanya tentang seorang anak yang tinggal di sebuah desa di El Salvador bersama ibu dan dua adiknya. Masalahnya, desa itu adalah juga medan perang saudara antara tentara pemerintah dan gerilyawan. Setiap saat peluru bisa meledak dimana-mana, sehingga penduduk desa harus selalu siap sedia tiarap kapanpun peluru menembus dinding gubuk mereka yang terbuat dari kayu dan seng.
Well, secara ini bukan di Review jadi me gak bahas panjang ttg ceritanya ya. Me cuma pengen nulis tentang perasaan yang ditimbulkan akibat menonton film ini, yang diangkat dari
kisah nyata. Dengan narasi dari Chava, tokoh utama, semua kejadian dilihat dari sudut pandang anak-anak. Autoboigrafi tentang gambaran perang dan kekerasan tentara dimata anak-anak, dan bagaimana cara mereka untuk tetap bertahan sebagai anak-anak dengan bermain dan menjelajahi lingkungan tempat tinggalnya dibawah desingan peluru (secara harafiah). Film ini benar-benar hanya menceritakan apa yang anak-anak lihat dan rasakan, tidak ada bahasan tentang apa yang terjadi selain bahwa tentara pemerintah berperang dengan gerilyawan.
Ada satu scene yg paling mengerikan, yaitu ketika anak-anak itu sedang istirahat di sekolah lalu tiba-tiba datang tentara memaksa guru mereka memanggil nama-nama beberapa anak. Anak yang terpilih, diambil dari sekolah dan teman-temannya, untuk dijadikan tentara. Tentara Anak.
Hal terbaik dari film ini adalah karena penggambarannya terhadap segala kesedihan dan kekejaman perang terhadap anak-anak -yang-seharusnya-dilindungi-dan-dicintai- dan juga terhadap orang dewasa. Mengena di hatiku. Kenapa ini terjadi, dan apa yang seharusnya dilakukan untuk membuatnya jadi lebih baik. Membuatku terpana di depan tipi berurai airmata jam tigapagi sambil merasa sangat bersalah karena selama ini tidak tahu adanya fakta mengerikan ini. Yang mungkin terjadi disekitar kita. Aceh, poso..
Me tidak tahu apapun tentang tentara anak tadinya, hanya sekali, dulu me pernah baca komik yang menceritakan tentang tentara anak di Afghanistan yang meledakkan tank hanya dengan tanah, dengan nama Allah. Tapi atas nama siapapun seharusnya perang tak perlu ada. (utopia ya?) Apapun tujuannya, yang paling menderita karena perang adalah rakyat kecil, dan anak-anak.
Ternyata, ada 300.000 tentara anak di dunia.
bacaan lebih lanjut: (maap..susah nemu link berbahasa)
Film:
www.innocentvoicesmovie.com
official website
http://www.rottentomatoes.com/m/10006013-innocent_voices/
review and critics
Tentara Anak:
http://www.childsoldiers.org/home/
This stands to justify the ever increasing attention that the subject
of child combatants or child soldiers is now given in many countries of
the world.
http//hrw.org/campaigns/crp/index.htm
Stop The Use of Children Soldier
From: Arya
(+6281xxxxxx)
Time:
WED 10.00
01-NOV-2006
Lg bingung mo nulis apa tiba-tiba datang sms itu lalu teringatlahku pada sebuah film yang sangat membekas di hati. Judulnya Innocent Voices.
Film yang menyentuh perasaan banget. Ceritanya tentang seorang anak yang tinggal di sebuah desa di El Salvador bersama ibu dan dua adiknya. Masalahnya, desa itu adalah juga medan perang saudara antara tentara pemerintah dan gerilyawan. Setiap saat peluru bisa meledak dimana-mana, sehingga penduduk desa harus selalu siap sedia tiarap kapanpun peluru menembus dinding gubuk mereka yang terbuat dari kayu dan seng.
Well, secara ini bukan di Review jadi me gak bahas panjang ttg ceritanya ya. Me cuma pengen nulis tentang perasaan yang ditimbulkan akibat menonton film ini, yang diangkat dari
kisah nyata. Dengan narasi dari Chava, tokoh utama, semua kejadian dilihat dari sudut pandang anak-anak. Autoboigrafi tentang gambaran perang dan kekerasan tentara dimata anak-anak, dan bagaimana cara mereka untuk tetap bertahan sebagai anak-anak dengan bermain dan menjelajahi lingkungan tempat tinggalnya dibawah desingan peluru (secara harafiah). Film ini benar-benar hanya menceritakan apa yang anak-anak lihat dan rasakan, tidak ada bahasan tentang apa yang terjadi selain bahwa tentara pemerintah berperang dengan gerilyawan.
Ada satu scene yg paling mengerikan, yaitu ketika anak-anak itu sedang istirahat di sekolah lalu tiba-tiba datang tentara memaksa guru mereka memanggil nama-nama beberapa anak. Anak yang terpilih, diambil dari sekolah dan teman-temannya, untuk dijadikan tentara. Tentara Anak.
Hal terbaik dari film ini adalah karena penggambarannya terhadap segala kesedihan dan kekejaman perang terhadap anak-anak -yang-seharusnya-dilindungi-dan-dicintai- dan juga terhadap orang dewasa. Mengena di hatiku. Kenapa ini terjadi, dan apa yang seharusnya dilakukan untuk membuatnya jadi lebih baik. Membuatku terpana di depan tipi berurai airmata jam tigapagi sambil merasa sangat bersalah karena selama ini tidak tahu adanya fakta mengerikan ini. Yang mungkin terjadi disekitar kita. Aceh, poso..
Me tidak tahu apapun tentang tentara anak tadinya, hanya sekali, dulu me pernah baca komik yang menceritakan tentang tentara anak di Afghanistan yang meledakkan tank hanya dengan tanah, dengan nama Allah. Tapi atas nama siapapun seharusnya perang tak perlu ada. (utopia ya?) Apapun tujuannya, yang paling menderita karena perang adalah rakyat kecil, dan anak-anak.
Ternyata, ada 300.000 tentara anak di dunia.
bacaan lebih lanjut: (maap..susah nemu link berbahasa)
Film:
www.innocentvoicesmovie.com
official website
http://www.rottentomatoes.com/m/10006013-innocent_voices/
review and critics
Tentara Anak:
http://www.childsoldiers.org/home/
This stands to justify the ever increasing attention that the subject
of child combatants or child soldiers is now given in many countries of
the world.
http//hrw.org/campaigns/crp/index.htm
Stop The Use of Children Soldier
Subscribe to:
Posts (Atom)