Semalam, thx to Nua, akhirnya nonton Denias juga, studio 2 yang sepi penonton. Apalagi kalau dibandingkan penonton studio sebelah yang menayangkan film buatan Multivision, Kuntilanak. Melihat rumah produksinya saja sudah membuatku pesimis, terlalu malas untuk menonton film rasa sinetron. Jadilah Denias sebagai pengobat kekecewaan karena batal berangkat ke Papua.
Ceritanya sederhana, tentang seorang anak Papua yang bertekad untuk terus bersekolah. Padahal guru satu-satunya sudah pulang ke Jawa. Maleo, seorang TNI yang peduli dengan pendidikan anak-anakpun harus pergi menjalankan tugas. Teringat kata-kata ibunya sebelum mati, diam-diam Denias nekat pergi mencari sekolah ke balik gunung. Karena menurut ibunya, gunung takut dengan anak sekolah.
Film ini indah sekali. Jarang ada film Indonesia yang menawarkan isi yang berbeda. Pemandangan Papua yang benar-benar mempesona. Alam liar yang belum tersentuh. Kehidupan orang Papua juga digambarkan dengan apik. Upacara pemasangan koteka, berburu kuskus, tampat tidur di honai yang hanya beralaskan jerami, upacara dukacita dengan memotong jari. Serasa bukan ada di Indonesia.
Selain itu film ini penuh dengan ironi. Anak-anak yang bertanya "Katanya di Jawa anak sekolah pakai seragam ya?" Peta Indonesia dari karton dan karung goni yang dibuat dengan penuh kebanggaan. (jadi inget casas de carton) Kesenjangan sosial yang nampak di kota di balik gunung dengan desa tempat Denias tinggal. Entah kenapa aku tergila-gila dengan film dengan teks keterangan tambahan pada endingnya. "Berdasarkan kisah nyata".
Lagi-lagi karena dilihat dari sudut mata anak-anak, film ini bercerita dengan sederhana, tanpa latar belakang politik dan embel-embel lain. Seperti juga Innocent Voices (lihat post sebelum ini) film ini bercerita tentang anak-anak dalam dunianya. Kebetulan saja anak-anak ini tak dapat menikmati kemudahan dunia modern seperti anak-anak yang lain.
Tentu film ini juga punya banyak kelemahan. Alurnya lambat. Terlalu banyak sisipan iklan produk didalamnya. Adegan Ibu Gembala (Marcella Zalianty) memperjuangkan Denias agar bisa bersekolah juga terasa janggal. Mungkin karena pemilihan kata-kata dan cara pembelaannya yang terlampau bertele-tele dan menanggung beban untuk menyampaikan sesuatu pada penonton. Jadi terkesan menggurui, ditambah dengan pengambilan gambar close-up yang kelamaan.
Disamping kekurangannya, film ini memberikan harapan bagi kemajuan film Indonesia. Semoga pesan yang disampaikan film ini tentang pendidikan bisa sampai. Seperti cerita Pak Guru Denias, agar Denias (dan anak-anak Indonesia) bisa melihat dunia, dari atas awan.(cya)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
1 komentar:
hua...fame trimakasih blogku sudah di-link arigato gosaimasu
Post a Comment